Peran Keluarga Dalam Menghadapi Penyimpangan Perilaku Pada Remaja

 

Remaja adalah masa peralihan diri dari perkembangan psikologis anak menuju dewasa. Pada masa ini tentu terjadi berbagai macam perubahan, baik secara fisik, biologis, mental dan emosional serta psikososial. Berbagai perubahan yang terjadi pada masa remaja dapat mempengaruhi kehidupan pribadi, lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Remaja adalah bagian dari warga masyarakat yang paling rentan dalam menghadapi godaan dan tekanan dari lingkungan sosialnya. Ketidaksiapan remaja dalam menghadapi godaan dapat menimbulkan berbagai perilaku menyimpang seperti yang belakangan ini makin mencemaskan, seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan obat terlarang, ancaman seks bebas, terlibat dalam geng, penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS, kehamilan yang tidak dikehendaki, aborsi dan lain sebagainya.

Di berbagai daerah, khususnya di kota besar, remaja umumnya tidak selalu dan tidak sepenuhnya steril dari berbagai pengaruh negatif. Berbagai perilaku yang terkategori menyimpang, cukup banyak dilakukan kelompok peer-group remaja, sehingga langsung maupun tidak langsung menjadi godaan tersendiri. Di kalangan remaja, tidak sedikit dari mereka yang pernah melihat film porno, melakukan hubungan seks bebas, dan berbagai perilaku menyimpang lainnya. Kehadiran teknologi informasi dan internet adalah hal baru yang membuat remaja makin berpeluang tergoda melakukan berbagai hal yang menyimpang.

 

1. Lingkungan Masyarakat

Kontrol dari masyarakat juga diperlukan guna mengatasi bahaya yang lebih besar lagi, karena lingkungan masyarakat merupakan tempat remaja tersebut hidup. Masyarakat merupakan lingkup Pendidikan nonformal, dimana remaja belajar bersosialisasi dan menerapkan apa yang ia dapatkan dari keluarga dan sekolah. Selain itu, dengan bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungannya, remaja juga belajar tentang norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat, misalnya norma kesopanan, norma susila, norma hukum, dan lain sebagainya. Kontrol dari masyarakat juga diperlukan untuk membentuk perilaku remaja itu. Masyarakatlah yang mengingatkan para remaja yang melakukan tindakantindakan yang tidak terpuji, misalnya, drag race liar, remaja berlainan jenis yang berdua-duaan, dan lain sebagainya. Namun, kondisi yang sekarang ini dalam masyarakat sudah mulai terkesampingkan. Masyarakat tidak lagi menjadi “polisi sosial”.

Menurut Walgito Bimo ( 1992: 35 ) Kenakalan remaja sebagai akibat pengaruh lingkungan sosial, perubahan sosial dan budaya yang semakin kompleks dan dinamis merupakan ciri perkembangan masyarakat akhir- akhir ini. Akibat perubahan tersebut yang relatif cepat ialah adanya perubahan konsep tingkah laku dan perbuatan. Perubahan konsep tingkah laku dan perbuatan ini pula dampaknya terjadi pada remaja, sehingga mereka kelihatan radikal dan agresif. Dalam hal ini pula bukan menjadi tanggungjawab pemerintah sepenuhnya, walaupun pemerintah bisa memberikan aturan, sistem dan strukturnya tetapi alangkah baiknya masyarakat indonesia secara keseluruhan bersama-sama dari berbagai pihak tanggungjawab bersama antara keluarga dan pihak guru dalam hal ini sekolah. Dibutuhkan kolaborasi yang antar ketiga tri pusat pendidikan tersebut agar masa depan anak sebagai penerus bangsa.

2. Peran Keluarga

Keluarga yang pada dasarnya mempunyai peranan untuk membentuk perkembangan, kepribadian dan sebagai pengontrol bagi anak remajanya untuk dapat memberikan batasan-batasan dalam menjalani kehidupan sosial serta tempat pendidikan bagi remaja mulai semakin terkikis dengan masuknya era modernisasi. Dengan kurang tanggapnya pada diri orang tua mengenai pentingnya aturanaturan bagi remajanya, mengakibatkan remaja merasa bebas untuk menerima segala informasi yang didapat dari luar baik hal tersebut mengarahkan ke pergaulan bebas seperti melakukan seks bebas. Dengan ditunjang adanya pendukung seperti internet, tayangantayangan yang menjurus pada seks bebas dan banyaknya video porno yang beredar semakin meyakinkan remaja untuk meniru hal tersebut. Faktor keluarga diyakini sebagai faktor yang paling utama berpengaruh pada anak usia remaja. Melalui aktivitas pengasuhan yang terlihat dari cara yang dipilih orangtua dalam mendidik anak, anak remaja akan tumbuh dan berkembang dari pengalaman yang didapatnya. Studi-studi menemukan bahwa hubungan yang hangat dan saling mendukung dalam keluarga berhubungan dengan pembentukan karakter yang positif pada anak usia remaja. Sebaliknya hubungan antara orangtua dan anakusia remaja yang penuh dengan konflik dan sikap kekerasan berhubungan dengan kemunculan masalah-masalah psikologis pada masa selanjutnya.

Pemecahan masalah sosial merupakan bagian dari kompetensi sosial sebagai hasil dari interaksi yang kompleks antara anak remaja dan lingkungan. Peran dan keteladanan orangtua, aktivitas pengasuhan, dan interaksi sehari-hari mengajarkan arah dari strategi pemecahan masalah sosial. Lebih lanjut dijelaskan bahwa hubungan antara anak remaja dan orangtua atau pendidik yang menimbulkan rasa aman yang digambarkan anak merasa dirinya layak dan berharga diprediksikan akan mempengaruhi bagaimana anak mengatasi masalah yang menekan ataupun masalah sehari-hari dengan cara yang positif. Pada intinya, bagi orangtua maupun pendidik, hubungan dengan anak remaja diharapkan adanya keterbukaan, suportif, penuh kasih sayang, saling menghargai, serta konsisten. Kedudukan orang tua yakni ibu dan bapak peranannya sangat strategis dalam membina dan mengembangkan potensipotensi yang ada pada diri setiap anak–anaknya, sebelum anak-anak itu memasuki atau melanjutkan kejenjang pendidikan formal.

Di samping itu pula ia juga sebagai motivator untuk mengarahkan anakanaknya agar dalam berbuat dan bertindak beorientasi kepada sipat yang konstruktif,penuh kebahagiaan terlepas dari tindakan dan perbuatan yang dstruktif. Keluarga yang baik akan berpengaruh positif bagi perkembangan anak, sedangkan keluarga yang jelek akan berpengaruh negatif. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kedudukan orang tua juga berpengaruh pada tingkah laku anak-anaknya. Apa yang diperbuat oleh orang tuanya pasti akan diikuti oleh anak-anaknya pula. Situasi keluarga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan. kepribadian seorang anak. Suami dan istri yang hidup rukun atau yang selalu cekcok dalam rumah tangga yang dilihat dan didengar anaksetiap hari, pasti mempengaruhi seluruh kehidupannya. Free seks yang terjadi di kalangan remaja tidak terlepas dari faktor keluarga. Keadaan orang tua yang kurang memperhatikan anak-anaknya dalam kehidupannya sehari-hari yang disebabkan salah satu di antara komponen keluarga tersebut terlalu sibuk sehingga tidak dapat memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

Dalam kaitan ini Bimo Walgito yang dikutib oleh Sudarsono bahwa tidak jarang orang tua tidak dapat bertemu dengan anak-anaknya. Coba bayangkan orang tua kembali dari kerja, anak-anak sudah bermain di luar, anak pulang orang tua sudah pergi lagi, orang tua datang anakanak sudah tidur, dan seterusnya. Keadaan yang semacam ini jelas tidak menguntungkan perkembangan anak. Dalam situasi keluarga yang demikian anak mudah mengalami frustasi, mengalami komplikkomplik psikologis.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tindakan orang para tua dalam hal ini bapak dan ibu yang jarang bertemu dengan anak-anaknya akan memberikan peluang maksimal terhadap anak-anaknya untuk senantiasa berberintegrasi dengan lingkungan di mana anak tersbut berada. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak apakah itu pengalaman baikataukah pengalaman buruk akan senantiasa berpengaruh terhadap psikisnya. Sehingga anak tersebut mencari jalan keluar untuk memecahkan masalahnya dengan sendiri, apakah hasil analisis itu baik atau tidak, itu tidak pernah dipikirkan. Baginya yang penting problema dapat teratasi sekalipun bertentangan dengan ajaran agama dan nilai-nilai moral serta budaya masyarakat. Maka tidak mengherankan dalam keluarga seperti ini memberikan peluang kepada remaja untuk berbuat melakukan pergaulan bebas dalam bentuk seks bebas di luar nikah.

Pada dasarnya pergaulan bebas yang terjadi di kalangan para remaja yang disebabkan oleh faktor keluarga ini, juga disebabkan oleh ketidak harmonisan hubungan suami istri dalam membina keluarga sakinah, yang menyebabkan broken home. Kenyataan menunjukkan bahwa anak-anak yang melakukan kejahatan disebabkan karena di dalam keluarga terjadi disentigrasi. Dengan demikian orang tua dalam hal ini ibu dan bapak yang tidak pernah memberikan perhatian ataukah membiarkan anak-anaknya begitu saja dalam berinteraksi dengan suasana lingkungan yang tidak menguntungkan berpengaruh buruk terhadap perkembangan jiwa anak. Sehubungan dengan pembahasan di atas Henri N. Siahaan berpendapat bahwa apabila dalam suatu keluarga ayah dan ibu sibuk dengan urusan masing-masing, maka pengawasan dan pengadilan terhadap anak-anak sudah pasti berkurang. Anakanak akan terlalu bebas melakukan apa saja yang diinginkan tanpa ada larangan atau petunjuk yang kongkrit dari orang tuaSituasi rumah tangga yang demikian mempunyai peluang besar untuk menghasilkan anak-anak nakal.

Hal yang sama pula di kemukakan oleh Marawali Harahap bahwa tidak disilinnya pengawasan orang tua dapat mempengaruhi agama terhadap para remaja bertambah longgar. Anak mudah lebih cepat matang dari semula dan berhasrat berdikari pada umur yang lebih muda. Kesempatan bergaul bebas pada masing-masing jenis menjadi lebih muda pada waktu itu. Jika disimpulkan kedua pendapat di atas dapat dipahami bahwa minimnya perhatian orang tua terhadap anaknya akan berpengaruh terhadap perkembangan tingkah laku anak. Dalam hal ini peluang untuk melakukan pergaulan bebas lebih besar. Seluruh kegagalan di kalangan remaja membuktikan bahwa, dimasa kanak- kanak mereka tidak bisa menyusuaikan dirinya dan bekerja sama dalam kehidupan keluarganya. Manaster dan Corsini berpendapat, yang dikutip Mauricie Balson mengatakan bahwa setiap kenakalan dimulai dari rumah. Anak-anak hanya berbuatmenyerang orang lain jika sudah terlatih untuk bersikap menyerang didalam keluarganya. Orang tua yang bertindak kasar atau tak ambil peduli, di luar sadarnya,telah menjadikan remaja nakal melalui metode yang salah arah. Bersikap sebagaiorang tua baik,adalah jalan pemecahan yang utama yang kita anjurkan untuk melawan kenakalan remaja.

Keterlibatan keluarga dalam perkembangan anak sangat penting khususnya orangtua. Orangtua terkadang begitu sibuk dengan kegiatannya sendiri tanpa mempedulikan bagaimana perkembangan anak-anaknya. Orangtua cenderung hanya memikirkan kebutuhan lahiriah anaknya dengan bekerja keras tanpa mempedulikan bagaimana anak-anaknya tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, perlu diketahui lebih mendalam berbagai penjelasan mengenai fungsi (Rochaniningsih, 2014). Fungsi keluarga terdiri atas (6) dimensi yaitu pemecahan masalah, komunikasi, peran, responsivitas afektif, keterlibatan afektif, kontrol perilaku.

a)      Pemecahan masalah, dimensi ini merujuk kepada kemampuan keluarga untuk memecahkan masalah pada setiap level sehingga dapat menjaga fungsi keluarga tetap efektif.

b)      Komunikasi. Pada dimensi ini lebih berfokus kepada komunikasi secara verbal yang lebih dapat diukur.

c)      Peran. Pada dimensi ini terdapat peran dalam keluarga seperti peyediaan sumber daya (penyediaan uang, makanan, pakaian dan tempat tinggal, adanya perawatan dan dukungan (penyediaan kenyamanan, kehangatan, rasa aman dan dukungan untuk anggota anggota keluarga), adanya kepuasan seksual dewasa (pasangan suami istri secara personal merasakan kepuasan dalam hubungan seksual satu sama lain), adanya pengembangan pribadi (mendukung anggota keluarga dalam mengembangkan keterampilan ppribadi seperti perkembangan fisik, emosi, sosial dan pendidikan anak serta pengembangan karir dan perkemmbangan sosial dewasa), adanya pemeliharaan dan pengelolaan sistem keluarga (melibatkan teknik tindakan yang dibutuhkan untuk mempertahankan standar keluarga seperti pengambilan keputusan, batasan dan fungsi keanggotaan dalam keluarga, implementasi dan kontrol perilaku, pengaturan keuangan rumah tangga dan hal yang berkaitan dengan pengasuhan dan kesehatan keluarga).

d)     Responsivitas afektif, yaitu kemampuan berespon terhadap stimulus yang ada dengan kualitas dan kuantitas perasaan yang tepat.

e)      Keterlibatan afektif merupakan sejauh mana anggota keluarga menunjukkan ketertarikan dan penghargaan kepada aktivitas dan minat anggota keluarga lainnya.

f)       Kontrol perilaku, mengenai pola yang diadopsi oleh keluarga untuk menangani perilaku anggota keluarga dalam tiga area yaitu situasi yang membahayakan secara fisik, situasi yang melibatkan pemenuhan kebutuhan dan dorongan psikologis, situasi yang melibatkan perilaku sosialiasi interpersonal baik diantara anggota keluarga maupun dengan oranglain di luar keluarga (Epstein et all, 2003 dalam Pratiwi, A.B.R, 2014).

Peran dan fungsi keluarga sebagai lembaga sosialisasi dan afeksi telah mengalami perubahan. Hal ini menyebabkan terganggunya proses sosialisasi anak dalam keluarga. Oleh karena itu saat ini banyak anak remaja yang berperilaku menyimpang, dan sebagian besar penelitian mengindikasikan telah terjadi pergaulan bebas (sex bebas) di kalangan remaja.

 

REFERENSI

Berkowitz, op.cit., h. 75.

Sudarsono, Kenakalan Remaja (Cet. II, Jakarta: PT. Rineka Cipta 1991), h.125.

Ibid

Henry N. Siahaan,Pembinaan Anak dala Keluarga (Cet. II; Jakarta: PT. Rineka Cipta 1991), h. 31

Marwali Harahap, Penyakit menular Seksual (Cet.II;Pt. Gramedia ,Jakarta, 1990), h. 4

Maurice Balson, Menjadi orang tua Yang Baik (Cet. I, Bumi Aksara, Jakarta, 1993)h. 144

Afrilyanti, Herlina & Rahmalia, S, HD (2015). Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Status Identitas Diri Remaja. JOM, Vol 2 (2).

Rochaniningsih, N. S ( 2014). Dampak Pergeseran Peran dan Fungsi Keluarga Pada Perilaku Menyimpang Remaja. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, Vol 2 ( 1).

Komentar